Malam itu, hari kelahiran kanjeng Nabi dirayakan dengan penuh semangat dan suka cita. Pengeras suara dinyalakan, petasan dan kembang api dibakar selama beberapa menit, lalu dentuman pertama dan berikutnya pecah saat warga lainnya sudah tertidur. Waktunya memang sudah lewat tengah malam. Hari sudah berganti. Bayi-bayi terbangun dan menangis keras. Tampaknya ia belum paham bahwa mereka sedang larut menjadi bagian dari ‘syiar’. Dentuman petasan di udara disambut tepuk tangan dan puji-pujian. Di rumah ujung gang, seorang bapak yang baru pulang kerja shift malam menatap langit-langit. Di rumah sebelahnya, seorang nenek yang sedang sakit menggenggam tasbih sambil berdoa agar dentum petasan ini cepat selesai. Tentu saja ia hanya bisa berdoa dengan khusyuk. Tidak ada pilihan lain. Panitia puas. Kata mereka, ini bentuk cinta kepada Rasulullah. Betulkah itu cinta? Cinta kepada kanjeng Nabi memang boleh meluap-luap, tetapi sebaiknya jangan sampai mengganggu ketenteraman tetangga sekitar. Ka...
- Get link
- X
- Other Apps