Posts

Sesat Pikir Soal Harga

Ia memamerkan durian lima ribu rupiah dengan dada dibusungkan. Murah, katanya. Merakyat. Bukti cinta pada negeri. Di saat yang sama ia mengernyit jijik melihat orang makan Musang King ratusan ribu. Boros. Hedonis. Tidak tahu diri. Durian lima ribu perak itu bukan mukjizat. Itu bukan hasil efisiensi. Itu bukti kegagalan yang belum dicetak di kertas resmi. Karena agar durian bisa semurah itu, orang-orang yang berkontribusi pada rantai pasok harus dibayar nyaris tidak sebagai manusia. Dengan sedih saya harus menyebutnya: budak! Entah petani, buruh angkut, atau keduanya—yang jelas bukan pejabatnya. Lucunya, ia bangga. Seolah-olah murah adalah prestasi, bukan tanda darurat. Seolah-olah petani memang ditakdirkan hidup dari pujian dan tepuk tangan, bukan dari harga yang berkeadilan. Musang King dimaki sebagai simbol ketimpangan. Padahal justru di sanalah petani kadang bisa bernapas: ada perawatan, ada pengetahuan, ada kesabaran, ada harga yang mengakui jerih payah. Mahal, ya. Karena kerja ker...

Satir Yang Lupa Cara Menertawakan Diri Sendiri

Obituari buat Pak Dito

Lagi Lagi Soal Riba

Khaled Abou El Fadl: Si Pemberontak di Majelis Fikih

Ingat Terus atau Lupakan?

Islam Minimalis

Sehari di Al-Ittifaq

Durian Adventures

Thomas Piketty: Capital and Ideology

Renungan di Raudhah