Ada dua hal yang datang hampir bersamaan minggu ini, dan keduanya memaksa saya berhenti sejenak: kabar duka tentang seorang kawan dekat yang wafat, dan bacaan Tadarus yang tiba di Surat Al-Fajr. Dalam kamus hidup saya, tidak ada kata kebetulan. Saya sangat percaya, tidak ada kebetulan bagi jiwa yang sedang diajak merenung. Al-Fajr, di salah satu bagiannya, membicarakan sisi paling mendasar dari manusia: bagaimana kita mengingat Tuhan ketika susah, lalu lupa bersyukur begitu nikmat datang. Sebuah pola yang begitu jujur menggambarkan kita — bukan hanya "orang lain", tapi saya, dan mungkin juga Anda. Namun bagian yang paling menyentuh bagi saya, selalu ada di tiga ayat terakhirnya. Di sana Tuhan menjanjikan sesuatu yang sederhana namun agung: *jiwa-jiwa yang tenang* akan dipanggil kembali, dengan rida dan diridai, untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya, ke dalam surga-Nya. Membaca itu pagi tadi, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh — pada kematian. Dan pada kawan saya, se...
- Get link
- X
- Other Apps