Posts

Kepada Yang Terhormat, yang Terlalu Sering Bersabda

 Ada satu kebiasaan lama para pemimpin di negeri ini yang tak lekang oleh pergantian rezim: gemar berpidato. Seolah mikrofon adalah candu, dan podium adalah panggung yang tak boleh sepi. Padahal, rakyat tak butuh lebih banyak kata. Rakyat butuh lebih sedikit korupsi. Setiap kali Presiden membuka mulut di forum-forum besar, publik menahan napas—bukan karena menanti wejangan bijak, melainkan was-was menanti kontroversi baru yang harus diklarifikasi esok harinya oleh juru bicara, lalu diklarifikasi lagi oleh juru bicara yang lain, sampai akhirnya klarifikasi itu sendiri butuh diklarifikasi. Ini bukan komunikasi publik. Ini pengulangan kesalahan yang dipoles jadi rutinitas. Pidato yang baik semestinya menenangkan, bukan menyulut. Menjernihkan, bukan mengaburkan. Tapi ketika satu kalimat spontan bisa menjadi trending topic selama sepekan penuh—bukan karena isinya berbobot, melainkan karena isinya bikin geleng kepala—maka ada yang keliru bukan pada rakyatnya yang “kurang paham konteks”, ...

Belajar Lagi di Usia Setengah Abad: Ketika Allah Masih Menganggap Kita Layak Jadi Mahasiswa

Debat Ribawi Bukan Cuma Soal Bunga

Berhenti Kerja ‘Bodoh’

Di Antara Gebyar Award

Hijrah yang Belum Usai