Dulu saya berpikir sederhana: jenjang pendidikan itu seperti tangga rumah. Ada S1, lalu S2, lalu S3. Setelah itu selesai. Tinggal duduk di kursi, memberi kuliah, dan sesekali mengernyitkan dahi seolah-olah sedang memikirkan teori besar dunia. Ternyata saya keliru. Rupanya tangga pendidikan itu bukan tangga rumah. Ia lebih mirip tangga darurat di gedung tinggi: kita kira sudah sampai lantai terakhir, tahu-tahu masih ada pintu kecil yang mengarah ke tangga berikutnya. Dan yang lebih mengejutkan, di usia yang sudah melewati separuh abad—usia ketika orang biasanya mulai belajar mengingat nama obat kolesterol—Allah justru masih menakdirkan saya untuk belajar lagi. Dulu, sekitar tahun 2000, saya pernah mencicipi bangku kuliah di Royal Melbourne Institute of Technology . Waktu itu rasanya sudah cukup mewah: mahasiswa Indonesia belajar di kampus luar negeri. Rasanya seperti sudah menunaikan salah satu kewajiban intelektual dalam hidup. Saya pikir, ya sudah. Tamat. Ternyata Allah punya selera h...
- Get link
- X
- Other Apps