Posts

Belajar dari Masa Depan

Ada keyakinan lama yang diam-diam saya pegang sejak muda: pendidikan formal itu selesai di ujung gelar doktor. Setelah S3 , manusia mestinya berhenti belajar di kampus dan mulai belajar dari kehidupan—yang sering kali lebih kejam dari dosen penguji. Saya dulu berpikir demikian. Ternyata Allah punya selera humor yang lebih baik. Di usia yang sudah melampaui separuh abad—usia ketika orang-orang mulai menimbang kadar gula, adam urat, kolesterol, dan masa pensiun—saya justru kembali menerima undangan untuk menjadi mahasiswa. Bukan mahasiswa nostalgia yang datang ke kampus sekadar mengenang kantin lama, atau membayar tunggakan karena wesel terlambat, melainkan benar-benar duduk lagi, membuka buku lagi, dan mungkin mencatat lagi seperti dulu. Dua puluh lima tahun yang lalu, sekitar tahun 2000, saya sempat mencicipi bangku kuliah di Royal Melbourne Institute of Technology . Saat itu rasanya seperti petualangan akademik yang cukup untuk satu kehidupan. Dan saya kira kisah itu sudah selesai. Te...

Gerhana (Bagian 6 dari 6 Tulisan)

Perhatian, Niat, dan Tindakan (Bagian 5 dari 6 Tulisan)

Dari Ember ke Pipa (Bagian 4 dari 6 Tulisan)

Bernapas Bersama (Bagian 3 dari 6 Tulisan)

Tiga Retak di Tanah yang Sama (Bagian 2 dari 6 Tulisan)

Mengosongkan Dulu, Baru Mengisi (Bagian 1 dari 6 Tulisan)

Selamat Jalan, Sang ‘Pemulung Kata’