Di sebuah negeri yang jam kerjanya lebih dipatuhi daripada azan maghrib, sedang marak ajakan revolusioner: “Bekerjalah sesuai kontrak!” Jangan lebih. Jangan inisiatif. Jangan sok rajin. Biar hidup seimbang, katanya. Seimbang antara jadi karyawan dan jadi pemalas berjadwal. Ajakan ini viral. Disukai. Dibagikan. Didoakan agar jadi budaya kerja nasional. Alasannya masuk akal: memberi lebih belum tentu dihargai. Salah bos, bisa dicap penjilat. Salah waktu, malah dibilang cari muka. Jadi, daripada salah, mendingan rebahan saja di balik meja, sambil menunggu jam pulang dengan penuh iman dan ketakwaan. Tapi saya—maafkan saya yang kuno ini—masih percaya bahwa kerja lebih adalah tabungan kebaikan. Bukan di bank konvensional. Bukan pula di koperasi simpan pinjam. Tapi di lembaga tak kasatmata bernama kehidupan . Satu-satunya lembaga yang tak pernah bangkrut, walau direksinya tak pernah kita lihat. Pernah ada seorang pelamar kerja. Ia datang rapi, rambut klimis, wajah dengan riasan tak berlebiha...
- Get link
- X
- Other Apps