Bayangkan Ken Arok, si penggila kuasa dari Tumapel, duduk manis di perpustakaan Universitas Cambridge tahun 1209. Saat itu usianya 27 tahun. Di tangannya bukan terhunus keris Mpu Gandring, melainkan pena bulu angsa, sibuk mencatat pelajaran tentang filsafat Aristoteles dan strategi militer ala Sun Tzu. Namun, mata Ken Arok, seperti biasa, lebih tertarik pada hal-hal lain di ruangan itu. Bukan buku, bukan pula dosen tua berjanggut lebat, melainkan gadis-gadis Inggris dengan pipi merah merona. Rambut mereka tergerai seperti gandum yang siap panen. “Ken Dedes siapa?” pikir Ken Arok. “Di sini banyak Dewi Venus berjalan-jalan.” Kalau Ken Arok cuma soal cinta, mungkin kisahnya jadi roman picisan biasa. Tapi, ia bukan pria sembarangan. Tiap lirikan matanya penuh perhitungan. “Ah, putri bangsawan itu,” pikirnya, “ayahnya punya tanah luas. Cocok untuk menyaingi tanah Tumapel.” Atau, “Si gadis pirang itu? Pintar mengelola keuangan. Boleh juga untuk mendirikan kerajaan bisnis di Eropa.” Tapi, di ...
- Get link
- X
- Other Apps