Tak terbantahkan, riba itu dosa besar. Para ustadz dan ekonom syariah sudah menegaskannya ribuan kali, lengkap dengan nada khotbah yang membuat kita merasa bersalah setiap kali lewat depan kantor Bank Indonesia. Tapi rupanya, riba bukan cuma punya alamat di lembaga keuangan. Ia sudah lama pindah rumah—menyamar dalam bentuk yang jauh lebih rapi, sopan, dan memakai jas berlogo “halal”. Buku What is Islam: The Importance of Being Islamic karya Shahab Ahmed membuka mata banyak orang: bahwa apa yang dianggap “islami” ternyata tak sesederhana yang kita bayangkan. Sesuatu bisa disebut islami, tapi justru problematik bila hanya mengulang simbol, bukan substansi. Dan di dunia bisnis, paradoks itu tampak paling telanjang. Kita terlalu sibuk memastikan akad jual belinya sah, tapi lupa bertanya apakah pekerjanya sejahtera. Kita rajin menista bunga bank (yang hingga kini debatnya belum kunjung selesai), tapi diam terhadap perusahaan yang membayar gaji terlambat. Kita khawatir pada riba finansial ,...
- Get link
- X
- Other Apps