Saya masih ingat teman-teman di masa kuliah yang rela menempuh perjalanan jauh ke lapak buku loakan, - Jakartq, Bandung atau Yogya, memburu judul yang tak tersedia di perpustakaan umum. Mereka adalah arsitek dari rasa ingin tahu mereka sendiri. Namun ada juga kelompok lain—mereka yang memandang membaca sebagai beban, kewajiban yang harus diselesaikan dengan upaya minimal. Fotokopi catatan teman. Waktu terus bergulir, tembok perpustakaan berganti cahaya putih Google, lalu kotak dialog AI. Dan di sinilah saya menemukan sesuatu yang menggelisahkan: teknologi tidak membuat manusia makin setara kemampuannya. Ia justru menguatkan perbedaan yang sudah ada. Sosiolog Robert K. Merton menyebutnya Matthew Effect—diambil dari Injil Matius, “siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi lebih lagi.” Dalam ekosistem pengetahuan digital, prinsip ini bermutasi menjadi semacam hukum besi: mereka yang sudah memiliki modal disiplin diri, kebiasaan membaca, dan kerangka berpikir kritis menemukan bahwa AI ad...
- Get link
- X
- Other Apps